Berita UtamaDaerahHiburanNasional

PENGEMBARA DARI DATAR ALAI, “Ingat Cu lah, Allah itu Maha Baik”

0

Hari ini, tepat 4 tahun, salah satu putera terbaik banua wafat, ya, pada tanggal 27 januari 2016 atau 17 rabiul akhir 1437 Hijriyah, H Ahmad Makkie berpulang ke rahmatullah. Pria yang multi talenta, pria biasa yang menjadi luar biasa dalam perjalanan hidupnya.

Mengukir tinta emas dalam peta perjalanan Kalimantan Selatan, bahkan turut mewarnai peta perjalanan Negara Republik Indonesia.

Berikut perjalanan sang maestro, yang dinukil dari buku biografi H Ahmad Makkie yang berjudul ; Pengembara Dari Datar Alai.

Ahmad Makkie, yang menyebut dirinya Anak Pondok itu lahir pada tanggal 21 April 1938 di kampung Luk Basar, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.



Dalam sejarah perang Banjar tercatat kampung Luk Basar pernah menjadi tempat pertemuan rahasia antara Demang Lehman dengan tokoh-tokoh masyarakat Alai (25 November 1861). Pertemuan rahasia itu, merupakan bagian dari perjuangan Pangeran Hidayat untuk membebaskan tanah Banjar dari cengkeraman penjajah Belanda.

Anak Pondok itu lahir dari pasangan H.Muhammad Ramli dan Hj .Badariah yang menikah pada tahun 1936. Mereka dikaruniai tujuh orang anak laki-laki yang diberi nama Ahmad Makkie, Ahmad Madani, Ahmad Hijazi, Ahmad Yamani, Ahmad Kan’ani, Ahmad Masri (alm) dan Ahmad Bugdadi.

Ahmad Makkie mempunyai saudara seayah yang lahir dan tinggal di Mekkah, Siti Khadijah namanya. Ia lahir dari perkawinan ayahnya dengan seorang perempuan Arab sebelum menikahi ibunya. Selain iut, Makkie masih mempunyai saudara seayah di kampung Timbuk Bahalang namanya Muhammad Nur, dan di Pantai Batung ada lagi dua orang adiknya dari ibu yang lain, bernama Alawi dan Khairunisa.

Kakeknya, Tuan Guru H.Ahmad bin H.Abd.Kadir berasal dari Amuntai. Diperkirakan pada tahun 1912 Ahmad yang masih belia diberangkatkan ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Ia bermukim di tanah suci hampir 20 tahun lamanya. Selama di Mekkah ia tinggal di kampung Samiah bersama Syekh Sulaiman Banjar tidak jauh dari Masjidil Haram.

Orang Banjar yang pernah berguru kepadanya, antara lain K.H.Ahmad Hasan Qadi, K.H.Ahmad Janawi, K.H. Muhammad Imran dari Amuntai, K.H. Jamaluddin dari Negara, K.H.M.Nawawi dan K.H.Mukeri dari Birayang, K.H.Zamzam dari Barabai, serta banyak lagi dari daerah lain yang tidak sempat diketahui.

Di Mekkah H.Ahmad menikah dengan seorang perempuan Arab dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Ramli, dengan demikian Makkie memiliki garis keturunan Arab dari pihak ayah.

H.Ahmad kembali ke Indonesia pada tahun 1932 dan sempat tinggal di Tanah Grogot (Kalimatan Timur) dan Tanjung Batu (Kotabaru), kemudian menetap di Sungai Banar Amuntai. Di sana beliau mendirikan pesantren yang juga berfungsi sebagai surau, terletak di tepian Sungai Negara. Sejak itu orang memanggilnya Tuan Guru.

Beliau selalu menggunakan jukung putih bila pergi ke masjid, mendatangi saruan atau pengajian. Tuan Guru itu meninggal dunia di masa penjajahan jepang dan dimakamkan di halaman rumahnya di kampung Sungai Banar.

Kakek Makkie dari pihak ibu bernama Hanafiah yang kerap disapa dengan Busu Hanap. Beliau menikah dengan Sapiah, urang Luk Basar, dan melahirkan dua bersaudara yang diberi nama Baci dan Badariah. Setelah ibunya meninggal dunia, Badariah dipeliharan oleh neneknya, H.Ragaiah. Sedangkan Baci melanjutkan pendidikan Normal School di Amuntai sampai menjadi guru.

Hanafiah kemudian menikah lagi dengan urang kampung Jati Jangkang bernama Gulik, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Saruji. Pada masa revolusi, Saruji ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Ia sempat menjadi Kepala Kantor Legiun Veteran Kalimantan Selatan di Banjarmasin dan kemudian menjadi pengusaha.

Ahmad Makkie si Anak Pondok itu menikan dengan Siti Sarah pada tanggal 27 November 1958 di Birayang. Siti Sarah bekerja sebagai guru SD sejak tahun 1957. Suami istri yang berbahagia itu dikaruniai enam orang anak yang kini telah dewasa dan telah berkeluarga. Mereka adalah Drs.H.Abdul.Hari M.Si., Drs.Ahmad Yani, Drs.H.Ibnu Anshari, MM, Agus Islami, H.Fajar Safari, S.Sos. dan Damai Mediawan. Kini Anak Pondok itu telah memiliki 15 orang cucu.

Unggut-Unggut Samuning

Masa kecil Makkie tidak membahagiakan, ayahnya sering bepergian ke luar daerah untuk mencari nafkah, terkadang berbulan-bulan lamanya. Sedangkan ibunya yang buta huruf, menekuni pekerjaan di sawah untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Setelah Berusia 7 tahun ia disekolahkan di Sekolah Rendah VI Tahun yang pada waktu itu disebut Lagere School terletak di samping jembatan yang menghubungkan pasar Birayang dengan Kampung Jati Simpang Tiga. Pada masa revolusi jembatan itu menjadi garis demarkasi antara militer Belanda dengan pasukan gerilya.

Makkie sangat lemah dalam pelajaran berhitung. Nilai yang diperolehnya dari mata pelajaran tersebut tidak pernah melampaui angka lima, namun dalam mata pelajaran Sejarah dan Bahasa, ia selalu mendapat angka tujuh atau delapan. Berbeda dengan temannya Tamjid yang sangat pintar dalam belajar berhitung. Tidak heran jika kelak Tamjid menjadi insinyur dan sempat menjabat Kepala Kantor Wilayah Pekerjaan Provinsi Kalimantan Selatan.

Yuda, Budang, temannya dari kampung Labuhan (Kampung Orang Dayak) sering membawa buah kuranji ke sekolah untuk dimakan bersama pada saat istirahat. Basrani, Jarkasi, Murhan, Mawardi, Syamsudin, Tuhani, adalah teman-teman Makkie yang akrab. Pada hari libur mereka berkumpul di salah satu tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Di sana mereka mengrjakan PR, yaitu membuat asbak atau vas bunga dari tanah liat, menyanyikan lagu Nyiur Melambai dan menggambar bunga atau burung. 

Guru-guru yang pernah mengajarnya di Sekolah Rendah ialah guru Sulaiman, guru Masrani, guru Asmail, guru Askandar, guru Husin, guru Tabri, guru Ahmad, dan guru Asmuni yang kelak menjadi mertuanya.

Makkie sangat gemar membaca. Buku Matahari Terbit dan Pancar Bahagia yang ada di sekolah dipinjamnya untuk dibaca di rumah.

Anak Pondok itu selalu membantu pekerjaan ibunya, baik di rumah maupun di sawah. Di rumah ia membantu menimba air dan memotong kayu bakar. Untuk mendapatkan uang belanja ibu Makkie membuat wadai (kue) pais pisang, gagatas, dadar gulung, guguduh yang dijajakan Makkie berkeliling kampung. Di lain waktu ia menjajakan tumpiangin, kambang goyang, gulagait, dan sasagun.  Kue-kue yang tidak habis terjual dititipkannya di kedai  dekat rumahnya.

Menjelang tidur, ibunya baandi-andi (bercerita), mengisahkan dua kakak beradik Intingan lawan Dayuhan, Warik lawan Kura-kura, Pilanduk lawan Buhaya, Cerita-cerita itu mengandung tamsil ibarat dan nasihat yang berguna.

Bila musim menanam padi tiba Anak Pondok itu ikut bekerja mengambil upah di sawah tetangga, batangjang atau merumput. Upah yang diperolehnya dari pekerjaan itu dipergunakan untuk sangu sekolah. Di kampungnya dikenal dengan sistem baugingan yaitu membantu mengerjakan pahumaan (sawah) milik guru mengaji. Sistem yang lain disebut baarian, yaitu melaksanakan pekerjaan sawah secara gotong royong. Dalam kegiatan tersebut pemilik sawah menyediakan pupuluran (makanan ringa) sebelum makan siang.

Pada musim hujan sawah digenangi air, para petani ramai menangkap ikan sapat, papuyu, kulacingan, sanggiringan, atau mencari haliling (keong sawah). Mereka menggunakan alat penangkap ikan yang disebut lukah, tangguk, jambih, tampirai, banjur, dan lain-lain.

Menjelang maghrib, Makkie mengikuti ayahnya ke surau yang terletak di tepi sungai Batang Alai. Ayahnya mempunyai kiat tersendiri untuk mengajak umat mengerjakan shalat berjamaah. Ba’da shalat maghrib dan Ba’da shalat subuh beliau bercerita tentang kepahlawanan Umar Ibnu Khattab, Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hamzah, Salahuddin Al Ayyubi. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Nabi Adam dengan dua orang anaknya, Habib dan Qabil, Luqman dan anaknya, Raja Harun Al Rasyid dan Abu Nawas, Fir’aun dan Nabi Musa, serta kekejaman musuh-musuh islam, seperti Ra’sulgul, Abrahah, Abu Jahal, dll. Pada hari-hari berikutnya jamaah shalat makin bertambah banyak.

Pada malam hari, tidak banyak orang ke luar rumah karena keadaan di kampung gelap dan sepi. Suasana itu berubah menjadi meriah, pada saat terang bulan. Anak-anak dan orang dewasa pada ke luar rumah untuk menikmati sinar bulan purnama. Di suatu tempat orang-orang dewasa asyik membunyikan musik tradisional yang terbuat dari bambu. Alat musik itu disebut hilai. Di tempat lain para remaja bermain unggut-unggut samuning. Permainan ini diawali dengan menutup wajah seseorang yang berperan sebagai warik (monyet). Badan orang itu digoyang-goyang mengikuti irama lagu yang didendangkan bersama.

Unggut-unggut samuning, samuning samundala,

dala dala karaing, karaing

tujing-tujing

tujing-tujing tumanap, tumanap surapati, pati-pati bintulu,

bintulu sama jadi

jadi ikam warik

Orang yang berperan sebagai monyet tadi melompat-lompat  dan mengejar orang-orang di sekitarnya. Apabila salah seorang pemain dapat ditangkap oleh sang warik, maka orang itulah yang akan menjadi pemeran warik berikutnya. Di tempat lain ada yang bermain basungkupan, bahayaman, bayasinan, dan lain-lain.

Mamucuk

Di sungai, orang-orang dewasa memanfaatkan bulan purnama untuk mencari ikan. Kegiatan itu disebut mamucuk. Mereka memasang pucuk hanau (janur) dengan posisi melintang di sungai. Pucuk hanau yang berwarna putih itu bergerak-gerak mengitkuti arus air. Tidak lama kemudian ikan-ikan berdatangan dan berkumpul di sekitar pucuk hanau itu. Pada saat itulah ditebarkan jala untuk menangkap ikan-ikan segar seperti ikan lampam, mangki, adungan, jalawat, baung, puyau, dll. Kegiatan tersebut berlangsung sampai pagi. Ikan-ikan yang diperoleh dibagi untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Sore hari dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain bola di lahan sawah yang sudah dipanen. Permaian sepak bola itu berlangsung sampai senja.

Bagarakan

Pada bulan Ramadhan, Makkie dan anak-anak lainnya ikut shalat tarawih. Sesudah tarawih, Makkie ikut bakakajian (membaca Qur’an) di surau sampai tengah malam.

Sekitar pukul dua dinihari para remaja bagarakan untuk membangunkan ibu-ibu yang akan menyiapkan makan sahur, mereka berkeliling kampung sambil menabuh gendang dan gamelan sambil menyerukan … Bangun… Bangun… Saur… Saur.

Setiap sore ramai orang mengunjungi pasar wadai. Di pasar yang hanya ada pada bulan Ramdhan itu dijual bermacam-macam kue dan makanan diantaranya wadai bingka, sari muka, amparan tatak, puteri salat, kararaban, hula-hula, tapai, cindul, kulang-kaling, untuk berbuka. Ada pula paisan iwak, pucuk lumbu, gangan waluh, gangan hambut, iwak garih batanak, pakasam, hintalu bajaruk, untuk bersahur.

Pada malam salikuran (21 Ramadhan) setiap rumah dihiasai dengan tanglong yang digantung di beranda rumah. Sedangkan di halam rumah dipasang dadamaran yang terbuat dari gatah gumpal (karet mentah) untuk menerangi jalan.

Menjelang Akhir bulan Ramadhan, anak-anak maupun orang dewasa menyiapkan meriam bambu yang diisi dengan minyak tanah untuk ditembakkan pada malah hari raya. Ada juga yang membuat meriam batang dari kelapa yang ditembakkan dengan bahan karbit.

Rumah keluarga Makkie pada malam hari raya ramai dikunjungi orang yang mengantar fitrah di masa itu mengantar beras fitrah ke rumah Tuan Guru (Ulama) dan guru sekolah. Ibunya sibuk membuat hidangan untuk para tamu yang berdatangan hingga larut malam. Pagi harinya Makkie dan teman-temannya pergi ke rumah guru sekolah atau guru mengaji untuk mengantar fitrah. Hal itu merupakan tradisi yang berakar di masyarakat. Tradisi itu kini sudah ditinggalkan orang.

Pada hari raya Idul Fitri kaum muslimin berbondong-bondong menuju masjid sambil mengumandangkan takbir dan tahmid di sepanjang jalan.

                Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

                La ilaha illallahu Wallahu Akbar,

                Allahu Akbar Walillahilhamd,

Setelah selesai shalat ‘Id, mereka berziarah ke makam keluarganya masing-masing. Di makam ramai orang membaca surah Yasin dan Tahlil, mengahadiahi mereka yang telah berpulang ke Rahmatullah.

Dengan baju baru dan sepatu baru anak-anak mengikuti orangtuanya mengunjungi sanak keluarga dan handai taulan. Mereka saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan di masa lalu. Setiap rumah menyediakan hidangan yang lezat-lezat, tidak ketinggalan kue tradisional seperti apam, putu, tapai, wadai titik, dan wadai satu. Suasana Hari Raya terasa sangat membahagiakan.

Bamulud

Pada bulan Rabiul Awal masyarakat mengadakan aruh sakampungan dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Di setiap rumah dibacakan syair-syair Maulid Syaraful Anam, Al Barzanji atau Diba’i untuk membesarkan peristiwa kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

                Thala’al badru alaina

                Min tsaniyatil wada’i

                Wajabasysyukru ‘alaina

                Mada’a lillahi da’i

                Ya Nabi salam ‘alaika

                Ya Rasul salam ‘alaika

                Ya Habib salam ‘alaika

                Shalawatullah ‘alaika

Masyarakat bergotong royog membuat lawang sakiping (gapura) di halaman masjid yang dihiasi dengan pucuk hanau (janur) dan kambang batu. Tapih bahalai (kain panjang wanita) bergelantungan di sepanjang jalan menghiasi kampung. Dengan hiasan itu suasana peringatan Maulin menjadi lebih semarak. Sekarang telah diganti dengan umbul-umbul.

Setelah usai acara Maulid di masjid para undangan menuju rumah yang telah ditentukan, untuk menikmati hidangan. Mereka diberi barakat (oleh-oleh) berupa gulai daging atau opor ayam atau masak habang yang dimasukkan dalam bumbung (ruas bambu) untuk dibawa pulang.

Biaya untuk hidangan Maulid itu dikumpulkan setahun sebelumnya melalui arisan yang disebut handil maulid yang dilaksanakan setiap malam Senin.

Bakarasmin

Menjelang tanggal 17 Agustus diadakan acara bakarasmin (hiburan) dan pasar malam, yang ramai dikunjungi orang untuk menyaksikan pertunjukan orkes, permainan sulap, ketangkasan berhadiah, lotto, rolet yang disebu unung-unungan. Para muda-mudi tidak mau melewatkan pasar malam yang berlangsung setahun sekali itu.

Jaman Kupun

Setiap hari Minggu dan Senin para petani karet menjual gatah lambar, gatah gumpal, dan gatah asap ke pasar Birayang, pembelinya disebut Eignaar. Sang Eignaar berangkat ke pasar mengendarai speda Releigh, berbaju piyama, bertopi cina, dan bersandal beledru cap macan.

Sebelum sampai di pasar ia singgah dulu ke warung katupat. Kapala Haruan dan parut iwak merupakan lauk istimewa kesukaan sang Eignaar. Waktu membayar harga makanan, biasanya sang Eignaar sengaja memamerkan kabatan duit (uang kertas yang diikat dengan gelang karet). Itulah perilaku orang berduit tempo doeloe. Perilaku seperti itu terjadi pada Jaman Kupun di masa penjajahan Belanda.

Babandi

Kekejaman serdadu Jepang membuat rakyat sangat menderita. Di mana-mana terjadi penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan. Barang-barang perhiasan seperti emas, intan atau berlian, dirampas oleh serdadu Jepang.

Sosok manusia berselimut karung, kotor dan jijik berkeliaran di lorong-lorong, mengais dan menadah minta dikasihani. Sosok-sosok itu disebut tarkul. Entah dari mana datangnya tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Di sekolah setiap pagi murid-murid selalu disuruh berbaris menghadap matahari terbit dan menyanyikan lagu Yama Yukaba. Para pemuda dilatih baris berbaris, mereka itu disebut konan ha kudan. Orang kampung menyebutnya kukudang. Mereka disiapkan untuk membantu tentara jepang melawan sekutu. Pemuda lainnya direkrut menjadi Heiho. Mereka dikirim ke Balikpapa dan Tarakan, dipersiapkan sebagai tentara cadangan. Pada saat itu terkenal lagu Amat Heiho yang antara lain berbunyi:

                Amat Heiho

                Jantan Indonesia

                Nun Di Tarakan

                Membela Negara

Kekurangan bahan makanan pada masa penjajahan Jepang membuat rakyat kelaparan. Rakyat tidak pernah lagi merasakan manisnya gula, apalagi susu dan mentega. Konon di masa itu terjadi peristiwa yang menggelikan. Suatu saat serdadu Jepang disuguhi tapai oleh seorang ibu. Setelah mencicipi tapai yang rasanya manis itu, serdadu dari Negeri Sakura itu marah dan bertanya kepada ibu itu, darimana kamu dapat gula. Karena tape yang disajikan ibu itu, rasanya manis.

Lingkungan yang kotor dan kumuh membuat rakyat berpenyakitan, Pada masa itu berjangkit-jangkit frambosia yang disebut puru atau tumbal. Satu-satunya obat untuk mengobati penyakit itu adalah tursi (belerang berwarna biru). Di rumah sakit hanya tersedia pil kinine guna mengobati sakit demam. Untuk mengobati penyakit koreng atau luka digunakan obat kuning dan obat kecap.

Murid-murid sekolah memakai baju bertambal dan bersepatu getah asap. Pada saat kenaikan kelas, Makkie memakai baju baru yang dibuatkan oleh ibunya dari ulas tilam (kain seprai).

Pada malam hari orang tidur berkelambu kertas, dan berkasur tikar purun. Buah bingduku (mengkudu) dijadikan sabun.

Di masa penjajahan maklumat pemerintah disampaikan dengan cara babandi. Pambakal (Kepala Kampung) menugaskan pangirak (suruhan Kepala Kampung) menyampaikan pengumuman berkeliling kampung dengan membunyikan gong :

                Gong…. gong…. gong…..

                Urang-urang kampung, dangarakan barataan

                Ulun menyampaikan, parintah pambakal

                Gong…. gong…. gong.

Anak Pejuang

Pada masa revolusi ayah Makkie ikut berjuang. Beliau menggunakan nama samaran Haji Walad. Belanda menyebut para pejuang kita sebagai ekstremis. Rumah Tuan Guru H.M.Ramli alias H.Walad yang sebelumnya ramai dikunjungi orang tiba-tiba menjadi sepi, tidak ada lagi orang belajar sifat dua puluh dan mengaji Qur’an.

Suatu ketika tentara Belanda mengobrak-abrik rumah pejuang itu. Rupanya tentara Belanda mendapat laporan bahwa sang pejuang itu ada di rumah menjenguk anak isterinya.

Suatu saat setelah masa revolusi usai, Makkie pernah bertanya pada ayahnya.

                Makkie                 : Benarkan para pejuang kita mempunyai kesaktian seperti bisa bahilang (tidak bisa dilihat), taguh (kebal), dan memiliki kesaktian?

                Ayah                      : Benar, karena Allah mengabulkan doa hamba-Nya yang berjuang di jalan Allah.

                Makkie                 : Kenapa pejuang kita tidak banyak yang menjadi Jenderal, seperti di Jawa dan Sumatera

                Ayah                      : Pada masa revolusi orang-orang pintar di daerah kita tidak mau berjuang, karena mereka tidak yakin dengan perjuangan kita akan berhasil. Mana mungkin Belanda dapat dikalahkan dengan parang bungkul, kata mereka.

                Makkie                 : Dari mana saja tentara gerilya kita itu?

                Ayah                      : Diantaranya dari penjara. Orang-orang yang ditahan polisi kita bebaskan pada waktu kita menyerah tangsi Belanda. Para tahanan itulah yang kita jadikan tentara gerilya. Mereka pada umumnya tidak berpendidikan, tapi berani mati.

                Makkie                 : Dari mana kita dapat senjata ?

                Ayah                      : Sebagian diberikan oleh Kompeni X (Tentara Belanda yang berpihak pada Republik). Tapi ada juga dengan cara merampas dari tangan musuh.

Suatu hari bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1948, Makkie dibawa oleh kakeknya Hanafiah ke Markas Gerilya di kampung Kabang untuk menyaksikan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan. Di sana ia melihat ayahnya sedang berpidato, beliau mengatakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad fisabilillah  karena kita memerangi orang kafir. Para pejuang yang gugur melawan Belanda mati syahid, ganjarannya tiada lain kecuali surga, kata beliau dengan suara tinggi.

Semangat juang yang berkobar di kalangan pejuang pada waktu itu juga dimiliki oleh anak-anak, mereka bermain perang-perangan. Senjata mainan dibuat dari palapah pisang atau bamban. Tokoh terkenal gagah berani dan ditakuti oleh Belanda. Anak-anak itu menyayikan lagu :

                Tantara Haji Daman

                Semua pakai huan (owen gun)

                Malitir (militer) Belanda habis matian

Putus Sekolah

Setelah menamatkan Sekolah Rendah (Largere School) di Birayang pada tahun 1951, Anak Pondok itu putus sekolah. Orangtuanya tidak mampu meneruskan pendidikan anaknya ke sekolah lanjutan.

Mula-mula Makkie belajar di Madrasah Persatuan Perguruan Islam (PPI) Birayang (1951-1952), kemudian pindah ke Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Mandingin (1953). Ia kemudian berkenalan dengan Yusran Asmuni, yang kelak menjadi kakak iparnya. Yusran Asmuni pada waktu itu belajar di Madrasah Mualimin Barabai. Makkie sering membonceng di sepeda bakal iparnya itu, bila sepeda yang biasa dipakaianya ke sekolah sedang dipakai oleh ayahnya.

Pada tahun 1954 ia belajar di Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, setahun kemudian ia merantau ke Kalimantan Timur dan menetap di Tanah Grogot.

Sifat Dua Puluh

Di masa kecil ia rajin mengikuti pengajian yang dipimpin oleh ayahnya di rumah atau di surau. Pengajian itu berlangsung sampai larut malam, tidak jarang Makkie tertidur di pangkuan ibunya.

Pelajaran sifat dua puluh ia ikuti bersama anak-anak lainnya yang diajarkan dengan metode tanya jawab. Pertanyaan diajukan oleh guru dan dijawab serentak oleh anak-anak dengan suara gemuruh.

                Tanya    : Rukun Islam berapa ?

                Jawab   : Rukun Islam lima.

                Tanya    : Apa bilangannya.

                Jawab   : Pertama Syahadat, kedua sembahyang, ketiga puasa, keempat bayar zakat, kelima naik haji.

                Tanya    : Apa awal agama ?

                Jawab   : Awal agama ma’rifatullah.

                Tanya    : Asyhadu alla ilaha illallah apa artinya ?

                Jawab   : Naik saksi aku, tiada yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

                Tanya    : Waasyhadu anna Muhammadarasulullah apa artinya ?

                Jawab   : Naik saksi aku bahwa Nabi Muhammad sebenarnya adalah pesuruh Allah.

Pelajaran sifat dua puluh yang sudah ditekuninya sejak kecil itu memotivasi Makkie untuk mendalami ilmu tauhid di kemudian hari. Pada tahun 1964, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Amuntai.

Untuk mendapatkan gelar sarjana muda pada Fakultas Ushuluddin para mahasiswa diwajibkan melakukan penelitian. Makkie dan kawan-kawan dibawah bimbingan dosen Kamdani Azmi, B.A. (alm) melakukan penelitian di kampung Anian (perkampungan suku Dayak) di Kecamatan Awayan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Mereka meneliti aspek-aspek kebudayaan dan kepercayaan penganut Kaharingan (warisan agama Hindu). Hasil penelitian itu ditulis dalam sebuah risalah untuk dipertahankan pada ujian akhir.

Makkie sempat menjadi Asisten Dosen Filsafat Is-lam dan Publistik di Fakultas Ushuluddin. Beberapa waktu kemudian ia dipercaya menjadi Dosen Luar Biasa di Fakultas Tarbiyah yang dibuka kemudian di IAIN Antasari Amuntai.

Dalam menghadapi ujian akhir Syafriansyah membentuk kelompok belajar yang diberi nama Panca Tunggal. Anggotanya sebanyak lima orang yaitu Syafriansyah, Ahmad Makkie, H.Afandi Zamzam, Ismail Syiar, dan M.Arsyad Anshari.

Dalam Masa Perkenalan Mahasiswa, Makkie sempat memelonco Husin Naparin, kini Ketua STAI Al Jami Banjarmasin. Ia sempat pula menjadi dosen pembimbing bagi beberapa mahasiswa yang akan mengambil gelar sarjana muda.

Anak Pondok itu masih mengingat nama-nama guru yang pernah mengajarnya, di Madrasah PPI Birayang, dia menyebut nama H.Sahran, Iderak, H.Basuni. Guru di SMP Mandiangin, dia menyebut nama M.Nunci dan Selamat alaumni Pondok Modern Gontor. Di pesantren Rakha dan Fakultas Ushuluddin Amuntai, dia menyebut nama-nama KH.Djuhri Sulaiman, KH.Asy’ ari, KH.Abd.Muthalib, A.Nabhan Rasyid, KH. Abd. Wahab Sja’rani, serta nama-nama dosen lulusan IAIN Yogyakarta seperti Kamdani Azmi, B.A., Hamzah Abbas, B.A, (kini Drs.), Drs.M.Ajidan Noor, Drs.S.Agil Assegaf, Drs.M.Hamli, M.Rafi’i, B.A. (kini Drs., M.A.), KH.Irsyad Djahri, KH.Adenani Iskandar (kini Drs.), Abdullah AA, B.A. serta H.Darjat, B.A. dan Drs.Syahriri Y.Pamuncak.

Bersambung……..

You may also like

More in Berita Utama

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *